Tak Ada Jejak Abu Anak Krakatau di Jateng, Masyarakat Diimbau Tak Panik

- Reporter

Selasa, 8 September 2026 - 06:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) hingga kini belum terdeteksi mencapai permukaan wilayah Jawa Tengah. Hasil pemantauan lapangan dan uji paper test di sejumlah titik, termasuk Semarang, Tegal, dan Cilacap, menunjukkan hasil negatif. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meminta masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.

Kepastian itu disampaikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah setelah melakukan asesmen bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di 35 kabupaten/kota. Pemantauan dilakukan terutama di wilayah yang berbatasan dengan Jawa Barat, mulai Cilacap, Kebumen, Purworejo, Brebes, Tegal, Banyumas, hingga wilayah lain di Jawa Tengah.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan, hasil asesmen menunjukkan belum ada dampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengganggu kehidupan masyarakat di Jawa Tengah.

“Ada informasi simpang siur terkait dampak langsung abu letusan GAK kepada masyarakat Jawa Tengah. Untuk menjelaskan isu-isu itu, harus didukung dengan data. Setelah kita cek di beberapa wilayah, hal yang mengganggu aktivitas kehidupan penghidupan masyarakat belum terjadi,” ujar Bergas saat konferensi pers di Rumah Rakyat, Kantor Gubernur Jateng, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, pemerintah tetap menempatkan kewaspadaan sebagai prioritas. BPBD di seluruh Jawa Tengah telah diminta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai potensi dampak debu, baik yang berasal dari aktivitas vulkanik maupun kondisi musim kemarau.

Bergas juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah sederhana, terutama jika harus beraktivitas di luar rumah.

Baca Juga :  Pelantikan PAW DPRD Jateng, Sekda Tekankan Percepatan Program Daerah

“Kalau kita bicara di musim ini (kemarau), debu itu pasti luar biasa. Maka penggunaan masker itu menjadi penting. Kemudian tidak banyak keluar rumah. Kalau aktivitasnya banyak di luar rumah, banyak minum air putih. Artinya, tetap waspada dan tidak khawatir berlebihan,” katanya.

Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan, pemantauan dilakukan dengan mengacu pada data Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan analisis citra satelit BMKG Himawari.

Hasil analisis menunjukkan arah pergerakan angin berbeda berdasarkan lapisan atmosfer. Pada lapisan permukaan sekitar ketinggian 1.500 meter, angin bergerak dari timur ke barat.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa sebelumnya muncul informasi mengenai kemungkinan pergerakan abu vulkanik menuju sejumlah wilayah Jawa Tengah.

“Jadi kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik diperkirakan sampai ke daerah-daerah di Jawa Tengah, tapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya, anginnya ke arah dari timur ke barat,” jelas Yoga.

Untuk memastikan kondisi di lapangan, pengujian empiris juga dilakukan melalui paper test pada 6 dan 7 September 2026 di lingkungan Bandara Ahmad Yani Semarang. Hasilnya, tidak ditemukan indikasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Pengujian serupa dilakukan di sejumlah titik lain, yakni Stasiun Klimatologi Kertajati, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, serta kawasan Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap.

Baca Juga :  Perdana di MTQ Nasional, Penyandang Tuli Ikuti Eksibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat

“Paper test di sekitar Bandara Ahmad Yani hasilnya negatif. Didukung pula oleh teman-teman di Staklim Kertajati Majalengka. Di Stamar Tegal mewakili Pantura juga negatif, Tunggul Wulung-Cilacap juga negatif. Secara ilmiah, di Jawa Tengah, perbatasan dengan Jabar di utara dan selatan itu negatif,” tegasnya.

Lantas, bagaimana dengan debu yang terlihat menempel pada mobil maupun sepeda motor dan beredar di media sosial?

Kepala Stasiun Klimatologi Jateng, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Menurut dia, kondisi udara di Jawa Tengah memang dipengaruhi musim kemarau. Pemantauan kualitas udara juga dilakukan secara rutin, baik ketika terjadi aktivitas vulkanik maupun dalam kondisi normal.

“Dapat disimpulkan, debu-debu dari kondisi volcanic ash tidak sampai ke Jawa Tengah untuk lapisan permukaan. Mengapa di medsos nampak debu di mobil atau motor? Karena kondisi kita dalam musim kemarau,” ungkap Goeroeh.

Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, sebanyak 24 wilayah saat ini berstatus kemarau awas. Masyarakat diminta tidak langsung mengaitkan debu yang ditemukan di lingkungan sekitar dengan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pemerintah mengimbau warga tetap mengikuti informasi resmi dari BPBD dan BMKG serta menjaga kesehatan selama kondisi kemarau.***

Berita Terkait

Gus Yasin Ingin Gerakan Ekonomi SGN Menjangkau Seluruh Jateng
Kasus Ponpes Sukorharjo, Ahmad Luthfi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Ketenteraman
Cegah Kebocoran Uang Negara, Jateng Gandeng KPK, BPK, dan BPKP
Dukung Petani Lebih Efisien, Ahmad Luthfi Berikan Bantuan 1.507 Alsintan
Jaga Produktivitas Pertanian, Gubernur Luthfi Kucurkan Rp 65,5 Miliar untuk Irigasi
Lima Catatan Penting dari Kasus Sukoharjo, Saatnya Berbenah Bersama
Tak Sekadar Tambah Layanan, Posyandu Jateng Didorong Beri Dampak Nyata
Nawal Yasin Libatkan Kader Posyandu untuk Dampingi Warga Benahi Data Bansos

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 19:25 WIB

Gus Yasin Ingin Gerakan Ekonomi SGN Menjangkau Seluruh Jateng

Selasa, 3 November 2026 - 18:39 WIB

Kasus Ponpes Sukorharjo, Ahmad Luthfi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Ketenteraman

Selasa, 3 November 2026 - 17:08 WIB

Cegah Kebocoran Uang Negara, Jateng Gandeng KPK, BPK, dan BPKP

Selasa, 3 November 2026 - 15:16 WIB

Dukung Petani Lebih Efisien, Ahmad Luthfi Berikan Bantuan 1.507 Alsintan

Selasa, 3 November 2026 - 15:08 WIB

Jaga Produktivitas Pertanian, Gubernur Luthfi Kucurkan Rp 65,5 Miliar untuk Irigasi

Berita Terbaru