SEMARANG – Gelak tawa dan kisah cinta yang menyentuh menjadi daya tarik film PIYE TO KIH? saat menggelar special screening di The Park Mall Semarang, Kamis (22/10/2026). Film produksi MIRACLE Pictures ini memadukan komedi, romansa, dan unsur supernatural dalam cerita yang tak hanya menghibur, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang kehidupan.
Antusiasme acara semakin terasa dengan kehadiran sutradara Ito Mavin bersama para pemain, Dara Sarasvati dan Gabriella Desta. Mereka menyapa penonton sekaligus berbagi cerita mengenai proses kreatif di balik film yang mengangkat bahasa dan budaya Jawa tersebut.
PIYE TO KIH? menghadirkan kisah Mukidi, seorang lelaki yang ingin membuktikan bahwa dirinya layak untuk menikah. Namun, keinginannya tidak mudah terwujud. Setelah cintanya kepada Bunga, yang diperankan Gabriella Desta, ditolak, Mukidi justru dipertemukan dengan Sukma, sosok misterius dari alam berbeda.
Pertemuan itu membawa Mukidi ke dalam perjalanan cinta yang tidak biasa. Hubungannya dengan Sukma diwarnai berbagai persoalan, termasuk perbedaan alam dan keyakinan. Situasi tersebut menjadi sumber konflik sekaligus menghadirkan berbagai kejadian yang dibalut humor segar.
Kehadiran Gendut dan Penyok turut memberikan warna komedi dalam perjalanan Mukidi. Meski menawarkan banyak kelucuan, film ini tidak semata-mata mengandalkan humor. Ceritanya juga menggali persoalan cinta, persahabatan, keluarga, kehilangan, serta perjuangan seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Di balik kisah cinta Mukidi yang penuh tantangan, terdapat pesan tentang pentingnya memantaskan diri sebelum mengharapkan sesuatu. Film ini mengajak penonton melihat bahwa memperjuangkan keinginan tidak cukup hanya dengan berharap, tetapi juga membutuhkan kemauan untuk berbenah dan berubah.
Sutradara Ito Mavin mengatakan, pesan tersebut menjadi salah satu inti cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Pesan yang ingin kita sampaikan dalam film ini sebenarnya bisa relevan dengan kehidupan banyak orang yang hidup di masa ini. Jadi, tentang bagaimana seseorang memantaskan diri ketika menginginkan sesuatu, mempunyai cita-cita, atau mengharapkan sesuatu dalam hidupnya,” ujar Ito.
Menurut Ito, perpaduan drama komedi dan unsur supernatural dipilih untuk menyampaikan pesan tersebut dengan cara yang ringan dan menghibur. Ia menegaskan, film ini bukanlah film horor yang berfokus pada teror atau adegan menakutkan, melainkan drama komedi yang menghadirkan sentuhan dunia supranatural.
Perbedaan alam dan keyakinan yang dialami tokoh utama juga tidak dimaksudkan untuk mengolok-olok agama. Unsur tersebut menjadi bagian dari konflik cerita yang mendorong Mukidi menghadapi persoalan hidup sekaligus memperbaiki dirinya.
Angkat Bahasa Jawa, Perkaya Perfilman Indonesia
Selain menawarkan cerita yang unik, PIYE TO KIH? menjadikan bahasa Jawa sebagai salah satu identitasnya. Penggunaan bahasa daerah ini menjadi bentuk upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui medium film.
Ito berharap semakin banyak sineas yang berani mengangkat bahasa daerah masing-masing, seperti Batak, Bugis, Makassar, Manado, dan Bali. Menurutnya, keberagaman bahasa dapat memperkaya cerita sekaligus memberikan warna tersendiri bagi perfilman nasional.
Film ini juga melibatkan kreator digital, di antaranya Dara Sarasvati sebagai kreator budaya dan Wakow Channel. Kolaborasi tersebut mempertemukan kreativitas dari dunia digital dengan para pemain yang memiliki pengalaman di industri perfilman nasional.

Bagi Dara Sarasvati, penggunaan bahasa Jawa bukan menjadi tantangan besar karena dirinya berasal dari Jawa Timur. Tantangan yang lebih sulit justru terletak pada pendalaman karakter Sukma, sosok dari alam berbeda yang harus ditampilkan dengan gestur dan ekspresi yang tidak sama dengan manusia pada umumnya.
Ia harus mengatur gerak tubuh, ekspresi wajah, hingga cara menunjukkan emosi agar karakter Sukma terasa meyakinkan.
“Walaupun momennya sedang emosional, emosionalnya hantu itu harus berbeda pendekatannya dengan manusia. Itu tantangan terbesarnya,” kata Dara.
Film ini dibintangi Heri Chandra sebagai Mukidi dan Dara Sarasvati sebagai Sukma. Gabriella Desta memerankan Bunga, sementara Sutrisno Agung berperan sebagai Gendut dan Eko Dunung sebagai Penyok.
Sejumlah pemain lainnya turut memperkuat cerita, yakni Wiyono, Rizka Oktavia, TJ Ruth, Ibnu Gundul, Marwoto, Ivonne Dahler, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, dan Yono Bakrie.
Disutradarai Ito Mavin yang juga menulis skenario bersama Endik Koeswoyo, film berdurasi 108 menit ini ditujukan bagi penonton berusia 13 tahun ke atas.
Special screening di Semarang menjadi pembuka rangkaian roadshow PIYE TO KIH? di 17 kota. Setelah Semarang, kegiatan tersebut dijadwalkan berlanjut ke Yogyakarta, Magelang, Solo, Sragen, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Mojokerto, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Blitar, dan Tulungagung.
Film PIYE TO KIH? dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 November 2026. Melalui kisah cinta Mukidi yang dibalut humor dan konflik tak biasa, film ini diharapkan mampu menghibur penonton sekaligus meninggalkan renungan tentang keikhlasan dan keberanian memperbaiki diri.
“Ketika kita ikhlas, sebenarnya kita sedang membebaskan diri dari penjara yang kita buat sendiri. Film ini idealis sekaligus realistis. Harapannya, penonton bisa mendapatkan pesannya dan tetap terhibur,” pungkas Ito.








