Jateng Percepat Pemetaan Anak Putus Sekolah dan Kekurangan SMA di Pegunungan

- Reporter

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TEMANGGUNG – Jarak sekolah yang terlalu jauh dan kemiskinan ekstrem masih menjadi penyebab anak-anak di sejumlah wilayah lereng Sumbing, Sindoro, Merbabu, dan Merapi kesulitan melanjutkan pendidikan.

Kondisi itu mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan pemetaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada lagi anak putus sekolah akibat terbatasnya akses pendidikan di daerah terpencil.

Langkah itu diambil setelah sejumlah bupati menyampaikan masih minimnya layanan pendidikan di wilayah pegunungan dan daerah blank spot saat Rembug Pembangunan Jawa Tengah di Pendopo Kabupaten Temanggung, Rabu (3/6/2026).

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang memimpin Jateng bersama Wagub Taj Yasin, menegaskan, data rinci mengenai anak putus sekolah akibat faktor jarak maupun kemiskinan ekstrem harus segera dihimpun sebagai dasar intervensi pemerintah.

“Tolong Dinas Pendidikan adakan survei di Bruno, lereng Merbabu dan Sumbing. Anak yang putus sekolah karena jaraknya jauh itu berapa, laporkan saya. Terus yang tidak bisa sekolah karena miskin ekstrem itu berapa,” kata Ahmad Luthfi.

Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu indikator utama kesejahteraan masyarakat. Masih adanya di sejumlah wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi, di mana anak-anak memilih bekerja setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP) dibanding melanjutkan pendidikan.

Baca Juga :  Gus Yasin Sebut Riset Perguruan Tinggi Jadi Fondasi Program Pemprov Jateng

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Jawa Tengah telah menjalankan program bantuan pendidikan bagi anak putus sekolah dan keluarga miskin ekstrem. Pada 2025, sebanyak 5.000 anak telah difasilitasi untuk kembali bersekolah melalui bantuan biaya pendidikan, seragam, buku, dan kebutuhan penunjang lainnya.

“Bagi yang putus sekolah kita biayai untuk sekolah, baik pakaian, buku, seragam, dan sebagainya. Tahun 2025 provinsi menyekolahkan 5.000 anak putus sekolah atau anak dari keluarga miskin ekstrem,” ujarnya.

Selain memetakan angka putus sekolah, juga akan mengidentifikasi ketersediaan fasilitas pendidikan menengah di wilayah sasaran. Jika ditemukan kebutuhan mendesak dan tersedia lahan, pembangunan SMA atau SMK negeri akan segera diusulkan dalam penganggaran pemerintah provinsi.

“Contoh di Temanggung ada tujuh daerah blank spot, itu coba direduksi. Kalau ada tanah langsung bangun,” tegasnya.

Saat ini, Pemprov Jawa Tengah tengah fokus menuntaskan sekitar 23 wilayah yang belum memiliki akses SMA sederajat. Salah satu upaya yang telah direalisasikan adalah pendirian SMAN Kemalang yang diresmikan pada Mei 2026.

Baca Juga :  Sekolah Rakyat Jateng Siap Dibuka 31 Juli, Pemprov Pastikan Fasilitas Tak Ala Kadarnya

Dalam forum tersebut, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, meminta penambahan SMA negeri di Kecamatan Kaliangkrik dan Kajoran yang hingga kini belum memiliki SMA/SMK negeri. Menurutnya, keberadaan sekolah menengah sangat penting untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayahnya.

“Masalah sekolah saya tidak mau tawar-menawar. Kami akan tetap minta tambah SMA karena IPM di Magelang rendah,” kata Grengseng.

Bupati Temanggung Agus Setyawan juga mengungkapkan masih terdapat tujuh wilayah blank spot pendidikan di daerahnya. Ia berharap Pemprov Jawa Tengah mempercepat pembangunan SMA sekaligus mendukung penyediaan lahan untuk program Sekolah Rakyat.

Sementara itu, Bupati Purworejo Yuli Hastuti meminta dukungan pembangunan SMK Negeri di Kecamatan Bruno. Menurutnya, wilayah tersebut memiliki jumlah penduduk yang besar dan masih menghadapi persoalan kemiskinan ekstrem.

“Sudah siap lahan desa 4 hektare dan kami minta dukungan Gubernur agar segera terealisasi,” ujar Yuli.

Pemetaan yang diperintahkan Ahmad Luthfi diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran, sekaligus memperluas akses pendidikan bagi masyarakat di kawasan pegunungan dan wilayah yang selama ini belum terjangkau layanan sekolah menengah.***

Berita Terkait

Sekda Jateng Dorong Peduli Lingkungan Sejak Dini, Pemprov Tetapkan 52 Sekolah dan Madrasah Layak Adiwiyata
Wagub Taj Yasin Berbagi Ilmu Kepemimpinan Kepada Santri, Butuh Riyadhah
Taj Yasin Ajak Pelajar dan Mahasiswa Jadikan Museum Ruang Belajar Peradaban
Manfaatkan Lonjakan Penumpang, Nawal Yasin Usulkan Buku Bacaan di Trans Jateng
Pemprov Jateng Salurkan Bisyaroh Buat Hafiz-Hafizah Tanpa Ribet Proposal
Pemprov Jateng dan Undip Edukasi Mahasiswa tentang Relasi Sehat
Khatmil Quran di Wonosobo, Taj Yasin Ajak Santri Jaga dan Amalkan Nilai Al-Qur’an
Ahmad Luthfi Turun Temui Mahasiswa NTT, Pastikan Biaya Kuliah dan Kos Aman

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 14:05 WIB

Sekda Jateng Dorong Peduli Lingkungan Sejak Dini, Pemprov Tetapkan 52 Sekolah dan Madrasah Layak Adiwiyata

Rabu, 16 September 2026 - 16:58 WIB

Wagub Taj Yasin Berbagi Ilmu Kepemimpinan Kepada Santri, Butuh Riyadhah

Rabu, 16 September 2026 - 13:11 WIB

Taj Yasin Ajak Pelajar dan Mahasiswa Jadikan Museum Ruang Belajar Peradaban

Jumat, 11 September 2026 - 18:38 WIB

Manfaatkan Lonjakan Penumpang, Nawal Yasin Usulkan Buku Bacaan di Trans Jateng

Kamis, 10 September 2026 - 15:48 WIB

Pemprov Jateng Salurkan Bisyaroh Buat Hafiz-Hafizah Tanpa Ribet Proposal

Berita Terbaru