Perang Obor Jepara Meriah, Tradisi Leluhur Jadi Daya Tarik Wisata

- Reporter

Selasa, 26 Mei 2026 - 08:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JEPARA – Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, kembali menyedot perhatian ribuan warga dan wisatawan, Senin malam 25 Mei 2026.

Kobaran api yang menyala di tengah gelap malam menjadi penanda dimulainya ritual budaya turun-temurun yang hingga kini tetap dijaga masyarakat setempat.

Tradisi khas masyarakat Tegalsambi itu turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin),bersama Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin, Bupati Jepara Witiarso Utomo, serta jajaran Forkopimda.

Perang Obor merupakan tradisi sedekah bumi dan ritual tolak bala yang digelar setiap Senin Pahing malam Selasa Pon setelah masa panen. Tradisi ini dipercaya sudah berlangsung sejak abad ke-16 atau era 1500-an dan berkaitan dengan legenda Ki Gemblong serta Kyai Babadan.

Dalam cerita rakyat setempat, Ki Gemblong yang bertugas menggembala ternak terlena mencari ikan hingga ternak milik Kyai Babadan sakit. Kyai Babadan kemudian memukul Ki Gemblong menggunakan obor. Namun api obor justru dipercaya menyembuhkan ternak yang sakit. Dari situlah muncul keyakinan masyarakat bahwa api obor menjadi simbol penolak bala dan keselamatan desa.

Wagub Jateng Taj Yasin mengatakan, Perang Obor bukan sekadar atraksi budaya. Melainkan tradisi yang menyimpan pesan moral sekaligus memiliki potensi besar sebagai wisata budaya unggulan.

Baca Juga :  Ahmad Luthfi Ajak Anak Panti Woro Wiloso Berlebaran di Kantor Gubernur

“Ini bagian dari menarik masyarakat supaya datang ke sini dan mencicipi makanan khas masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai event budaya seperti Perang Obor mampu menggerakkan ekonomi warga sekaligus memperkenalkan identitas lokal Jepara kepada masyarakat luas.

Selain itu, Wagub mengingatkan sejarah Perang Obor mengandung pesan penting tentang amanah dan tanggung jawab.

“Dari sejarah Perang Obor ini ada pesan yang perlu diingat masyarakat, bahwa amanah harus benar-benar dijalankan,” katanya.

Menurutnya, ritual tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk doa masyarakat kepada Tuhan agar dijauhkan dari musibah dan diberi keselamatan.

“Ini bentuk doa kepada Allah SWT agar masyarakat diangkat dari bala dan diberi keselamatan,” lanjutnya.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak sore hari. Banyak pengunjung datang dari luar daerah untuk menyaksikan langsung tradisi khas Jepara tersebut.

Salah seorang pengunjung, Jatus, mengaku sengaja datang bersama keluarganya dari Batealit untuk menikmati kemeriahan Perang Obor.

“Sudah dua kali nonton. Tahun ini lebih seru,” ujarnya.

Ia mengatakan meski cuaca sempat diguyur hujan, masyarakat tetap bertahan memenuhi lokasi acara.

“Ramai sekali walaupun hujan,” katanya.

Jatus berharap tradisi tersebut ke depan semakin ramai dan terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Jepara.

Baca Juga :  Kafilah MTQ Segera Tiba, Taj Yasin Siapkan Skenario Jika Bandara Ditutup

“Harapannya semoga lebih ramai lagi,” ucapnya.

Di sisi lain, Perang Obor juga menjadi bagian hidup masyarakat Tegalsambi yang terlibat langsung sebagai pelaku tradisi. Salah satunya Petruk, warga yang sudah mengikuti Perang Obor sejak tahun 2000 atau sekitar 26 tahun terakhir.

“Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000,” katanya.

Tak hanya dirinya, tradisi tersebut kini juga diteruskan anaknya sebagai generasi penerus keluarga.

“Anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ujarnya.

Menurut Kuning, masyarakat luar mungkin melihat Perang Obor sebagai tradisi ekstrem karena adanya kobaran api dan saling beradu obor. Namun bagi warga Tegalsambi, ritual itu merupakan warisan leluhur yang sarat nilai kebersamaan dan doa keselamatan.

“Orang luar mungkin melihatnya berbeda. Tapi bagi kami yang lahir di sini, ini tradisi turun-temurun,” katanya.

Ia berharap Perang Obor tetap lestari dan semakin dikenal luas tanpa kehilangan nilai budaya yang diwariskan leluhur.

“Harapannya ke depan semoga lebih bagus lagi dan tetap lestari,” pungkasnya.

Perang Obor sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020.***

Berita Terkait

Ribuan Warga Tumplek Blek Tonton Alma Esbeye, Bikin Gebyar MTQ di Semarang Makin Meriah
Kabar Baik! Jateng Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 28 Desember 2026
Sekda Jateng Usulkan RUU Kabupaten/Kota Disesuaikan dengan Karakteristik Daerah
Kafilah MTQ Nasional hingga Pelajar Ramai-Ramai Cukur Gratis Stan Baznas Jateng
Jokowi dan Sejumlah Tokoh Solo Terima Anugerah BAMAGNAS 2026
Dengarkan Suara Warga, Proyek PLTP Gunung Ungaran Pastikan Tak Akan Sentuh Cagar Budaya dan Perhatikan Lingkungan
Cegah Jerat Judol dan Pinjol Ilegal, Ning Nawal Ajak Kader PKK Jadi Agen Literasi Keuangan
Ahmad Luthfi: JTAB Bikin Petani Jateng Digaji Panen Dibeli

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 09:11 WIB

Ribuan Warga Tumplek Blek Tonton Alma Esbeye, Bikin Gebyar MTQ di Semarang Makin Meriah

Jumat, 18 September 2026 - 18:14 WIB

Kabar Baik! Jateng Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 28 Desember 2026

Jumat, 18 September 2026 - 15:24 WIB

Sekda Jateng Usulkan RUU Kabupaten/Kota Disesuaikan dengan Karakteristik Daerah

Jumat, 18 September 2026 - 15:17 WIB

Kafilah MTQ Nasional hingga Pelajar Ramai-Ramai Cukur Gratis Stan Baznas Jateng

Jumat, 18 September 2026 - 07:44 WIB

Dengarkan Suara Warga, Proyek PLTP Gunung Ungaran Pastikan Tak Akan Sentuh Cagar Budaya dan Perhatikan Lingkungan

Berita Terbaru