Surplus Beras Berkelanjutan, Jawa Tengah Siap Ambil Posisi Teratas

- Reporter

Rabu, 7 Januari 2026 - 19:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah yang dipimpin Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan wagub Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), siap ‘melompati’ daerah lain di Pulau Jawa, dalam hal penyediaan beras, pada tahun 2026. Sebab dari catatan 2025 Jateng sudah surplus beras.

“Dengan hasil yang sudah dicapai pada tahun 2025, Jawa Tengah siap melompat, kalau posisinya terus seperti saat ini, sangat mungkin melampui Jawa Barat dan Jawa Timur, jadi nomor satu nanti,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares.

Hal itu disampaikan Frans, sapaan akrabnya, usai mengikuti daring acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan bersama Presiden Prabowo Subiyanto. Acara daring dari Lantai 2 Gedung A Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu, 7 Januari 2026.

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen, bersama Forkopimda dan OPD terkait.

Jawa Tengah, kata Frans, telah menjadi salah satu penyangga pangan nasional. Diperkirakan, pada tahun 2026, akan ada peningkatan signifikan sebesar 5,5 % dibandingkan tahun 2025.

“Secara kebutuhan pun, komoditas kita sudah lebih tinggi daripada yang dibutuhkan,” katanya.

Surplus itu dialami hampir seluruh komoditas pangan, yang menjadi target indikator utama di Dinas Pertanian dan Perkebunan.

Baca Juga :  Jaga Harga Jelang Ramadan, Jateng Siapkan 308 GPM Sepanjang Februari-Maret 2026

Terdapat sembilan komoditas yang menjadi indikator utama dinas yakni, padi, jagung, cabe, bawang, tebu, kelapa, kopi, kakao, dan kedelai.

Dari produksi sembilan komoditas ini di Jawa Tengah, hanya kedelai yang tidak terpenuhi kebutuhannya. Meskipun demikian, angka produksinya tetap tertinggi di Indonesia.

“Semua sudah lewat 100 %, artinya surplus semua. Hanya satu yang kita tidak capai 100 % yaitu kedelai, itu pun masih paling tinggi se Indonesia,” ujarnya.

Produksi padi di Jawa Tengah pada tahun 2025, mencapai 11,36 juta ton GKP (gabah kering panen) atau 9,38 juta ton GKG (Gabah Kering Giling). “Dengan kebutuhan yang ada, pada tahun 2025, setiap bulan kita surplus 150.000 ton beras,” terang Frans.

Oleh karenanya, dia kembali menegaskan jika Jawa Tengah sudah sangat siap untuk mendukung swasembada pangan yang menjadi program pemerintah pusat.

“Apa yang disampaikan Pak Presiden tadi capaiannya jelas kontribusi kita sampai dengan 15%. Bahkan bisa lebih itu dari Jawa Tengah bisa 15 sampai 16%,” tandasnya.

Sementara itu, dalam mengatasi kebutuhan kedelai, Jawa Tengah akan memperkuat strategi dengan pembenihan dan mencari lahan alternatif, seperti tadah hujan atau tegalan.

Baca Juga :  Gentengisasi Jadi Peluang Baru IKM Jateng, Kebutuhan Capai 1,1 Juta

Frans mengakui jika kedelai merupakan komoditas yang tidak mudah untuk dikembangkan, karena memerlukan kondisi khusus. Tidak terlalu banyak air, namun juga tidak boleh kekurangan air.

“Untuk petani yang belum pengalaman tetap harus ada pendampingan,” lanjutnya.

Frans juga menyebutkan, capaian Nilai Tukar Petani (NTP) di Jawa Tengah juga menunjukkan trend positif. bgg Tercatat, NTP terakhir sebesar 124 % atau bahkan mencapai 128 %. Menurutnya, indikator tersebut menunjukkan tingkat kesejahteraan petani di Jawa Tengah mencapai angka yang menggembirakan.

“Jadi memang kita melihat dari indikator ini berarti petani kita jauh lebih sejahtera sekarang,” imbuhnya.

Terkait optimisme pada tahun 2026, Frans menegaskan, capaian tahun ini akan melampui tahun lalu. “GKP kita 11.300.000 untuk 90.000 GKG, kita pasang di tahun depan Rp 12 juta. Otomatis ini kalau kita tercapai 12.000.000 kita bisa lebih tinggi dari Jawa Barat, dan Jawa Timur itu bisa bisa kalau mereka tidak meninggi, kita yang nomor satu nanti,” katanya.

Namun demikian, daerah lain juga dimungkinkan akan melakukan strategi peningkatan. Hanya saja, Frans mengatakan, jika Jawa Tengah sudah memasang target untuk melompat, dan bertekad untuk melampui daerah lain di Pulau Jawa.*

Berita Terkait

Jateng Jadi Magnet Investor, Komitmen Investasi Baru Capai Rp9,7 Triliun
Libatkan ASN dan BUMD, Pengumpulan Minyak Jelantah Pemprov Jateng Raih Rekor
Produksi Padi Jateng Sudah 8,5 Juta Ton, Ahmad Luthfi Kejar Target hingga 11 Juta Ton
BULOG Bentuk Satgas Khusus, Perketat Pengawasan Penyaluran Beras SPHP
Integritas Jadi Kunci, Sumarno Ingatkan Sekda se-Jateng dalam Penyusunan APBD
Realisasi Investasi Jateng Tembus Rp72,54 Triliun, Serap 340 Ribu Pekerja
Investasi Jateng Melaju, Ahmad Luthfi Dianugerahi Figur Akselerator Kemajuan
Ahmad Luthfi Optimistis Investasi Jateng Tembus Rp 110 Triliun pada 2026

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 18:39 WIB

Jateng Jadi Magnet Investor, Komitmen Investasi Baru Capai Rp9,7 Triliun

Senin, 2 November 2026 - 14:33 WIB

Libatkan ASN dan BUMD, Pengumpulan Minyak Jelantah Pemprov Jateng Raih Rekor

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Produksi Padi Jateng Sudah 8,5 Juta Ton, Ahmad Luthfi Kejar Target hingga 11 Juta Ton

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:13 WIB

BULOG Bentuk Satgas Khusus, Perketat Pengawasan Penyaluran Beras SPHP

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:28 WIB

Integritas Jadi Kunci, Sumarno Ingatkan Sekda se-Jateng dalam Penyusunan APBD

Berita Terbaru