Sendratari “The Legend of Cheng Ho” Tampilkan Kekayaan Akulturasi Budaya Kota Semarang

- Reporter

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Kisah persinggahan Laksamana Ceng Ho di Kota Semarang sekitar enam abad silam kembali dihidupkan melalui pertunjukan sendratari kolosal bertajuk The Legend of Cheng Ho yang digelar Sanggar Greget Semarang di kawasan wisata Sam Poo Kong, Sabtu (20/6).

Pertunjukan yang menjadi bagian dari Greget Festival Tari (GFestar) ke-67 itu menghadirkan sekitar 150 penari yang seluruhnya merupakan siswa Sanggar Greget. Selama kurang lebih dua jam, para penampil menyuguhkan alur cerita tanpa jeda, mengisahkan perjalanan armada Ceng Ho hingga singgah di kawasan Simongan yang kini dikenal sebagai Sam Poo Kong.

Ketua Sanggar Greget Semarang, Sangghita Anjali, mengatakan tema Ceng Ho dipilih karena memiliki kedekatan historis dengan Kota Semarang sekaligus merepresentasikan semangat akulturasi budaya yang hingga kini masih terasa.

“Pada GFestar ke-67 ini, kami ingin kembali mengangkat tema yang dekat dengan Kota Semarang. Ceng Ho menjadi pilihan menarik karena secara historis beliau pernah singgah di Semarang. Dari peristiwa itu kemudian lahir akulturasi budaya yang sangat baik. Kami mencoba menginterpretasikan persinggahan tersebut sebagai simbol pertemuan dan perpaduan berbagai budaya,” ujarnya.

Menurut Ghita, konsep pertunjukan yang diusung adalah sendratari atau drama tari, sehingga para penampil tidak hanya menari, tetapi juga membawakan karakter yang mendukung jalannya cerita.

Baca Juga :  Dari Angkringan, Ahmad Luthfi Tampung Masalah Irigasi hingga Gagal Panen Petani

“Konsepnya sendratari, jadi seluruh siswa membawakan peran masing-masing. Pertunjukan berlangsung tanpa jeda agar penonton bisa merasakan keutuhan cerita dari awal hingga akhir,” katanya.

Sementara itu, sutradara pertunjukan, Canadian Mahendra, menjelaskan koreografi yang ditampilkan tetap berakar pada ragam gerak tari Semarangan. Namun, pola gerak disesuaikan dengan kemampuan para penari yang sebagian besar masih berusia sekolah.

“Karena banyak penarinya masih anak-anak dan remaja, kami membuat pola gerak yang lebih sederhana. Meski begitu, esensi cerita dan karakter yang ingin disampaikan tetap terjaga,” ujarnya.

Pengasuh Sanggar Greget Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo, menilai sosok Ceng Ho memiliki makna penting bagi perkembangan budaya di Semarang. Kehadiran laksamana asal Tiongkok tersebut dinilai menjadi salah satu simbol keterbukaan yang membuka ruang pertemuan berbagai budaya.

“Ceng Ho merupakan simbol yang kuat di Semarang. Dari situ terbuka koridor-koridor budaya yang memungkinkan terjadinya akulturasi. Kondisi itu memberikan ruang yang sangat luas bagi kesenian untuk tumbuh dan berkembang, termasuk seni tari,” katanya.

Menurut Yoyok, keberagaman budaya yang berkembang di Semarang tidak bisa dilepaskan dari posisi kota tersebut sebagai wilayah pesisir yang sejak lama menjadi titik pertemuan berbagai bangsa dan budaya.

Baca Juga :  Flexi Time ASN Jateng Berlaku 13 Juli, Ayah Bisa Antar Anak di Hari Pertama Sekolah

“Justru itu yang membuat Semarang menjadi kota yang menarik. Banyak bauran budaya yang terjadi dan menjadikan kota ini semakin kaya,” ujarnya.

Di sisi lain, Canadian Mahendra yang memerankan tokoh Laksamana Ceng Ho mengaku tantangan terbesar dalam pementasan tersebut adalah mendalami karakter tokoh sejarah yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan budaya di Semarang.

“Kesulitannya lebih pada pendalaman karakter. Kami harus memahami terlebih dahulu latar belakang sosok Ceng Ho, kemudian menerjemahkannya ke dalam bentuk drama tari. Karena ini pertunjukan kolosal, kami juga harus membangun kekompakan dengan para prajurit dan seluruh pemain,” katanya.

Untuk mempersiapkan pertunjukan tersebut, para pemain menjalani proses latihan selama enam bulan. Mahendra mengaku bangga dapat memerankan tokoh Ceng Ho dalam pertunjukan kolosal yang untuk pertama kalinya diangkat Sanggar Greget Semarang.

“Saya sangat bangga. Ini menjadi kebanggaan tersendiri karena Sanggar Greget untuk pertama kalinya mengangkat kisah Laksamana Ceng Ho dalam bentuk drama tari kolosal,” ujarnya.

Melalui pertunjukan ini, Sanggar Greget tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengenang jejak sejarah yang membentuk identitas Kota Semarang sebagai kota multikultural yang kaya akan nilai toleransi dan akulturasi budaya.**

Berita Terkait

Lima Catatan Penting dari Kasus Sukoharjo, Saatnya Berbenah Bersama
Tak Sekadar Tambah Layanan, Posyandu Jateng Didorong Beri Dampak Nyata
Nawal Yasin Libatkan Kader Posyandu untuk Dampingi Warga Benahi Data Bansos
Dari Menanam Pohon hingga Sumur Resapan, Taj Yasin Ajak Anak Muda Jaga Lingkungan
Cegah Trauma Berkepanjangan, Taj Yasin Pastikan Anak-anak Korban Penggerebekan Didampingi
Magelang Disiapkan Jadi Sentra Susu Baru, Wagub Taj Yasin Pastikan Dukungan Kesehatan Ternak
Tiga Insiden di Porprov Jateng, KONI Evaluasi SOP Keselamatan Atlet
Tak Perlu Jauh ke Rumah Sakit, Warga Lereng Lawu Terbantu Layanan Speling

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 13:38 WIB

Lima Catatan Penting dari Kasus Sukoharjo, Saatnya Berbenah Bersama

Senin, 2 November 2026 - 19:22 WIB

Tak Sekadar Tambah Layanan, Posyandu Jateng Didorong Beri Dampak Nyata

Senin, 2 November 2026 - 17:27 WIB

Nawal Yasin Libatkan Kader Posyandu untuk Dampingi Warga Benahi Data Bansos

Minggu, 1 November 2026 - 17:31 WIB

Dari Menanam Pohon hingga Sumur Resapan, Taj Yasin Ajak Anak Muda Jaga Lingkungan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:41 WIB

Cegah Trauma Berkepanjangan, Taj Yasin Pastikan Anak-anak Korban Penggerebekan Didampingi

Berita Terbaru