Lahir dari Perjuangan, Taj Yasin Apresiasi Tradisi Keilmuan Watucongol Tetap Terjaga

- Reporter

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAGELANG – Lebih dari dua abad lalu, Pondok Pesantren Darussalam Watucongol lahir dari lingkungan perjuangan melawan kolonialisme.

Kini, ketika tradisi pendidikan dan keagamaannya masih bertahan, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen merasa senang dan mendorong agar warisan keilmuan tersebut terus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Pesantren yang didirikan Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa sekitar 1820 itu tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama. Sang pendiri juga dikenal sebagai salah seorang senopati atau panglima Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.

Jejak sejarah tersebut menjadi bagian dari perjalanan Watucongol hingga kini. Tradisi pendidikan dan keagamaan terus dijalankan, salah satunya melalui pembacaan Al-Qur’an dan Dalailul Khairat, kitab berisi kumpulan shalawat dan doa yang diamalkan secara rutin di lingkungan pesantren.

Hal itu menjadi perhatian Taj Yasin saat menghadiri Haflah Akhirussanah ke-8 Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, Muntilan, Kabupaten Magelang, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menilai tradisi membaca Al-Qur’an dan Dalailul Khairat memiliki peran dalam membentuk lingkungan keilmuan pesantren. Menurutnya, banyak orang menjadi alim melalui proses pendidikan dan tradisi keagamaan yang dijalankan secara konsisten.

Baca Juga :  Pembukaan MTQ Dimeriahkan Opick, Kolosal Tari, Hingga Rekor MURI 25 Ribu Orang Nyanyi Bersama Mars MTQ

“Di dalam khataman Al-Qur’an, ada Dalailul Khairat. Ini mengantarkan banyak orang menjadi alim. Sebabiyah yang pertama adalah Al-Qur’an, kemudian Dalailul Khairat,” katanya.

Menurutnya, kekuatan tradisi tersebut salah satunya terletak pada istiqamah atau konsistensi dalam menjalankannya. Pembacaan Dalailul Khairat, misalnya, dibagi berdasarkan hari sehingga lebih ringan untuk diamalkan secara rutin.

“Dalailul Khairat dibagi dari Senin, Selasa sampai kembali Senin lagi. Ini meringankan wiridan supaya kita bisa istiqamah,” ujarnya.

Gus Yasin mengatakan keberadaan pesantren dan majelis ilmu yang masih aktif menjadi hal yang menggembirakan bagi pemerintah. Ia berharap tradisi keagamaan dan keilmuan seperti yang dijalankan Watucongol terus tumbuh di berbagai daerah Jawa Tengah.

“Atas nama pemerintah, saya senang kalau pengajian-pengajian seperti ini masih berjalan di wilayah Jawa Tengah,” katanya.

Sejarah Watucongol sendiri menunjukkan panjangnya perjalanan pesantren dalam menjaga pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat. Kementerian Agama mencatat para pendiri Pesantren Darussalam sebagai ulama sekaligus mujahid yang terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme.

Baca Juga :  Fakta Baru Terungkap, Korban Penipuan di Purwokerto Diminta Tutup Mulut Oleh Sang Ratu Investasi Bodong

Kini, warisan tersebut berlanjut dalam bentuk pendidikan pesantren dan tradisi keagamaan yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, KH Aly Qoishor Ahmad Abd Haq, yang lebih dikenal Gus Mad, mengatakan keberlangsungan pesantren hingga saat ini tidak terlepas dari amanah para orang tua yang menitipkan pendidikan anak-anak mereka.

Ia menggambarkan pengabdian para pengasuh sebagai tanggung jawab untuk menjalankan amanah tersebut, bukan sekadar pekerjaan yang berorientasi pada imbalan.

“Jenenge wong akon niku hakikine juragan sing dikon jenenge kuli. Dadi mboten kyai tapi kuli (Namanya orang yang menyuruh itu sebenarnya adalah juragan, sedangkan orang yang disuruh disebut kuli. Jadi, bukan kyai, tetapi kuli),” ujarnya.

Menurutnya, para pengasuh, keluarga, dan seluruh unsur pesantren berupaya menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya agar Ponpes Darussalam Timur terus memberikan manfaat.***

Berita Terkait

Ribuan Warga Tumplek Blek Tonton Alma Esbeye, Bikin Gebyar MTQ di Semarang Makin Meriah
Kabar Baik! Jateng Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 28 Desember 2026
Sekda Jateng Usulkan RUU Kabupaten/Kota Disesuaikan dengan Karakteristik Daerah
Kafilah MTQ Nasional hingga Pelajar Ramai-Ramai Cukur Gratis Stan Baznas Jateng
Jokowi dan Sejumlah Tokoh Solo Terima Anugerah BAMAGNAS 2026
Dengarkan Suara Warga, Proyek PLTP Gunung Ungaran Pastikan Tak Akan Sentuh Cagar Budaya dan Perhatikan Lingkungan
Cegah Jerat Judol dan Pinjol Ilegal, Ning Nawal Ajak Kader PKK Jadi Agen Literasi Keuangan
Ahmad Luthfi: JTAB Bikin Petani Jateng Digaji Panen Dibeli

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 09:11 WIB

Ribuan Warga Tumplek Blek Tonton Alma Esbeye, Bikin Gebyar MTQ di Semarang Makin Meriah

Jumat, 18 September 2026 - 18:14 WIB

Kabar Baik! Jateng Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 28 Desember 2026

Jumat, 18 September 2026 - 15:24 WIB

Sekda Jateng Usulkan RUU Kabupaten/Kota Disesuaikan dengan Karakteristik Daerah

Jumat, 18 September 2026 - 15:17 WIB

Kafilah MTQ Nasional hingga Pelajar Ramai-Ramai Cukur Gratis Stan Baznas Jateng

Jumat, 18 September 2026 - 07:44 WIB

Dengarkan Suara Warga, Proyek PLTP Gunung Ungaran Pastikan Tak Akan Sentuh Cagar Budaya dan Perhatikan Lingkungan

Berita Terbaru