Ahmad Luthfi Apresiasi Kolaborasi Jawa-Betawi dalam Gebyar Harmoni Budaya

- Reporter

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Suara gamelan mengalun pelan ketika para tamu mulai memadati kawasan Blok M Hub, Jakarta Selatan, Jumat (19/6/2026). Malam itu, panggung Gebyar Harmoni Budaya tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni tradisi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan dua budaya besar, Jawa dan Betawi, yang berpadu dalam semangat kebersamaan.

Di tengah suasana yang hangat dan penuh nuansa kultural, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyerukan, keberagaman budaya merupakan modal penting bagi bangsa. Menurutnya, perbedaan yang dimiliki masyarakat Indonesia justru harus menjadi kekuatan untuk memperkuat pembangunan nasional.

Ahmad Luthfi yang memimpin Jateng duet Wagub Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), hadir memenuhi undangan Paguyuban Jawa Tengah di Jabodetabek sebagai penggagas acara. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap upaya merawat harmoni sosial melalui pendekatan budaya di tengah masyarakat yang semakin beragam. Kolaborasi yang ia kerap gaungkan menginspirasi Harmoni Budaya Jawa-Betawi.

“Saya hadir untuk berkontribusi dan menciptakan semangat persatuan dan kesamaan sikap dalam membangun wilayah. Selamat hari jadi ke-499 DKI Jakarta, semoga menjadi ladang kontribusi nasional dan guidance bagi Indonesia,” kata Luthfi dalam sambutannya.

Bagi Luthfi, Jakarta adalah titik temu berbagai suku dan budaya dari seluruh penjuru Nusantara. Kota ini menjadi tempat banyak warga Jawa Tengah mengadu nasib, beradaptasi dengan lingkungan baru, sekaligus memberikan kontribusi bagi daerah tempat mereka tinggal tanpa meninggalkan identitas budaya asal.

Baca Juga :  46 Defile dari Berbagai Daerah Semarakkan Pawai Ta’aruf MTQ Nasional di Jateng

Pandangan itu tercermin dalam pementasan wayang kulit yang menjadi salah satu sajian utama Gebyar Harmoni Budaya. Menurutnya, pertunjukan tersebut menjadi simbol bahwa masyarakat perantauan tetap menjaga akar budaya di tengah derasnya dinamika kehidupan metropolitan.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Masyarakat di perantauan telah membanggakan Jawa Tengah karena ikut membangun wilayah tempat mereka tinggal sekarang, namun tetap ingat tanah leluhur,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Luthfi juga menyinggung perkembangan Jawa Tengah yang dinilainya terus menunjukkan kemajuan. Ia menyebut Jawa Tengah kini semakin menarik minat investor dan berkembang sebagai salah satu pusat industri padat karya nasional. Tidak saja investor dari dalam negeri, tapi juga datang dari luar negeri.

“Jawa Tengah sekarang menjadi salah satu basis industri padat karya dan menjadi tumpuan untuk mendobrak investasi,” katanya.

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan internasional, antara lain Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007 Sutiyoso, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah AK Al-Sattiri, serta Duta Besar Bahrain untuk Indonesia Ahmed Abdulla AlHajeri.

Baca Juga :  Aktivis Lingkungan Prancis Perluas Gerakan ke Jateng, Gubernur Luthfi Sambut Positif

Sutiyoso menilai Jakarta layak disebut miniatur Indonesia karena menjadi rumah bagi beragam etnis, agama, dan profesi. Keberagaman itu, menurutnya, merupakan kekuatan yang harus terus dirawat.

“Acara Harmoni Budaya ini sangat cocok dengan kondisi Jakarta yang selalu disebut miniatur Indonesia,” kata pria yang akrab disapa Bang Yos itu.

Puncak acara ditandai dengan kolaborasi wayang kulit Betawi dan wayang kulit Jawa yang dibawakan oleh dalang Ki Sukadana dan KRA Ki Gunarto Gunotalijendro.

Penonton juga disuguhi fragmen teater kolaboratif yang mengangkat nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan, menghadirkan pesan tentang pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman.

Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah, Leles Sudarmanto, mengatakan wayang kulit dipilih karena merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis sekaligus edukatif. Melalui kolaborasi budaya Jawa dan Betawi, pihaknya ingin memperkuat semangat persatuan serta mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda.

“Harmoni Budaya adalah kolaborasi seni budaya antara wong Jawa dan Betawi. Republik Indonesia membutuhkan kolaborasi untuk menyamakan persepsi dan memperkuat persatuan melalui budaya,” ujarnya.***

Berita Terkait

Ribuan Warga Tumplek Blek Tonton Alma Esbeye, Bikin Gebyar MTQ di Semarang Makin Meriah
Kabar Baik! Jateng Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 28 Desember 2026
Sekda Jateng Usulkan RUU Kabupaten/Kota Disesuaikan dengan Karakteristik Daerah
Kafilah MTQ Nasional hingga Pelajar Ramai-Ramai Cukur Gratis Stan Baznas Jateng
Jokowi dan Sejumlah Tokoh Solo Terima Anugerah BAMAGNAS 2026
Dengarkan Suara Warga, Proyek PLTP Gunung Ungaran Pastikan Tak Akan Sentuh Cagar Budaya dan Perhatikan Lingkungan
Cegah Jerat Judol dan Pinjol Ilegal, Ning Nawal Ajak Kader PKK Jadi Agen Literasi Keuangan
Ahmad Luthfi: JTAB Bikin Petani Jateng Digaji Panen Dibeli

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 09:11 WIB

Ribuan Warga Tumplek Blek Tonton Alma Esbeye, Bikin Gebyar MTQ di Semarang Makin Meriah

Jumat, 18 September 2026 - 18:14 WIB

Kabar Baik! Jateng Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 28 Desember 2026

Jumat, 18 September 2026 - 15:24 WIB

Sekda Jateng Usulkan RUU Kabupaten/Kota Disesuaikan dengan Karakteristik Daerah

Jumat, 18 September 2026 - 15:17 WIB

Kafilah MTQ Nasional hingga Pelajar Ramai-Ramai Cukur Gratis Stan Baznas Jateng

Jumat, 18 September 2026 - 07:44 WIB

Dengarkan Suara Warga, Proyek PLTP Gunung Ungaran Pastikan Tak Akan Sentuh Cagar Budaya dan Perhatikan Lingkungan

Berita Terbaru