Ribuan Warga Saksikan Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas

- Reporter

Senin, 16 Februari 2026 - 06:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANYUMAS – Langit di atas Kota Purwokerto, Banyumas, tampak berselimut mendung. Namun, awan kelabu yang menggantung justru menghadirkan hawa sejuk yang menenangkan. Seolah turut memberikan restu bagi perjalanan sejarah Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas.

Suara gamelan yang mengalun lirih memecah keheningan di halaman Rumah Dinas Wakil Bupati, Minggu, 15 Februari 2026. Di bawah naungan langit mendung, warna-warni pakaian adat Jawa Banyumasan yang dikenakan para peserta kirab tampak lebih elegan.

Semilir angin membawa aroma dupa, menambah kesan magis kala prosesi penyerahan pusaka dimulai oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono.

Saat empat pusaka kebesaran mulai diarak (Tombak Kiai Genjring, Keris Nala Praja, Keris Gajah Endra, dan Keris Kiai Sempana Bener), suasana berubah menjadi begitu khidmat.

“Rika kabeh tak jaluki tulung supaya ngirepna pusaka piandele Praja Banyumas (Kalian semua saya minta tolong agar membawa pusaka kebanggaan Praja Banyumas),” kata Bupati melepas peserta kirab.

Suba Manggala memimpin barisan dengan langkah yang tegap namun tenang di atas aspal jalanan Purwokerto yang masih lembap.

Kilauan logam dari pusaka-pusaka tersebut sesekali tertangkap mata, kontras dengan latar belakang langit yang teduh.

Warga yang memadati tepian jalan tampak tenang. Tidak perlu berdesakan mencari peneduh karena mendung pagi telah menjadi payung alami bagi mereka.

Baca Juga :  Di Tengah Banjir Pekalongan, Bunda PAUD Jateng Hadir Kembalikan Keceriaan Anak-Anak

Iring-iringan yang membawa fmfoto para pendahulu (Bupati ke-2 hingga ke-31), bergerak perlahan menuju Pendopo Si Panji.

Di bawah langit yang tetap setia dengan mendungnya, prosesi ini bukan sekadar parade, melainkan sebuah jembatan waktu yang menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan Banyumas yang gemilang.

Hingga pusaka-pusaka tersebut dileremkan atau diistirahatkan di Gedung Pusaka, suasana sejuk tetap terjaga. Meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pasang mata yang menyaksikan.

“Momentum hari jadi ini diharapkan mampu mendorong masyarakat menjadi lebih sejahtera, produktif, dan adil sesuai visi Banyumas PAS,” kata Sadewo.

Kehadiran pusaka-pusaka ini menjadi daya tarik luar biasa bagi warga. Desi, salah satu warga Banyumas yang sudah bersiap di lokasi sejak pukul 09.00 WIB, mengaku terpukau dengan prosesi tersebut.

Baginya, kirab ini adalah kesempatan langka untuk melihat langsung simbol sejarah daerahnya.

“Acaranya bagus banget ya, kita jadi tahu bupati-bupati terdahulu, kita jadi tahu sejarah,” ungkap Desi dengan antusias.

Ia bahkan tak menyangka bisa melihat pusaka asli secara langsung. “Eh, ternyata pusakanya beneran ada. Harapannya untuk Hari Jadi Banyumas kali ini menjadi lebih baik lagi.”

Baca Juga :  Ribuan Warga Mengungsi, Pemprov Jateng Percepat Solusi Permanen Banjir Demak

Senada dengan Desi, Imam Arif Budiman menjadikan momentum kirab ini sebagai sarana pendidikan luar ruang bagi keluarganya. Memboyong istri dan kedua anaknya, Imam ingin memastikan nilai-nilai budaya Banyumasan tetap dikenal oleh anak-anaknya sejak dini.

“Tujuannya ya memperkenalkan budaya Banyumas, hiburan, dan pendidikan juga, biar anak-anak tahu sejarah Banyumas,” ujar Imam.

Sebagai warga yang setia menonton kirab setiap tahunnya, ia berharap tradisi ini terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya.

“Semoga Banyumas ke depannya lebih maju, lebih sejahtera, dan acara seperti ini diadakan terus,” imbuhnya.

Prosesi kirab pusaka berlangsung pukul 08.40 WIB, dan selesai sekitar pukul 14.30 WIB. Dengan rute sejauh 1,2 Km.

Sehari sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, juga sempat meresmikan Wahana Wisata dan Edukasi Sejarah D’Sabin Banokeling di Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas.

Peresmian itu sebagai wujud dukungan Pemprov Jateng dalam melestarikan sejarah dan menjaga tradisi leluhur untuk generasi penerus. Wahana ini bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan pusat edukasi yang mengangkat sejarah Kerajaan Pasir Luhur.

“Sejarah dan tradisi dalam perkembangan zaman itu sudah semakin luntur. Karenanya harus terus dilestarikan,” pungkasnya.***

Berita Terkait

Dukung Petani Lebih Efisien, Ahmad Luthfi Berikan Bantuan 1.507 Alsintan
Jaga Produktivitas Pertanian, Gubernur Luthfi Kucurkan Rp 65,5 Miliar untuk Irigasi
Lima Catatan Penting dari Kasus Sukoharjo, Saatnya Berbenah Bersama
Tak Sekadar Tambah Layanan, Posyandu Jateng Didorong Beri Dampak Nyata
Nawal Yasin Libatkan Kader Posyandu untuk Dampingi Warga Benahi Data Bansos
Dari Menanam Pohon hingga Sumur Resapan, Taj Yasin Ajak Anak Muda Jaga Lingkungan
Cegah Trauma Berkepanjangan, Taj Yasin Pastikan Anak-anak Korban Penggerebekan Didampingi
Magelang Disiapkan Jadi Sentra Susu Baru, Wagub Taj Yasin Pastikan Dukungan Kesehatan Ternak

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 15:16 WIB

Dukung Petani Lebih Efisien, Ahmad Luthfi Berikan Bantuan 1.507 Alsintan

Selasa, 3 November 2026 - 15:08 WIB

Jaga Produktivitas Pertanian, Gubernur Luthfi Kucurkan Rp 65,5 Miliar untuk Irigasi

Selasa, 3 November 2026 - 13:38 WIB

Lima Catatan Penting dari Kasus Sukoharjo, Saatnya Berbenah Bersama

Senin, 2 November 2026 - 19:22 WIB

Tak Sekadar Tambah Layanan, Posyandu Jateng Didorong Beri Dampak Nyata

Minggu, 1 November 2026 - 17:31 WIB

Dari Menanam Pohon hingga Sumur Resapan, Taj Yasin Ajak Anak Muda Jaga Lingkungan

Berita Terbaru