Kasus Campak Meningkat, Pemprov Jateng Genjot Imunisasi dan Sosialisasi

- Reporter

Senin, 30 Maret 2026 - 16:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, menyusul meningkatnya tren suspek campak dalam dalam tiga tahun terakhir. Penguatan imunisasi dan edukasi masyarakat menjadi fokus utama, seiring tingginya tingkat penularan penyakit tersebut.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, usai menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI Bidang Kesehatan, terkait Pengawasan Kesiapsiagaan Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak, di Provinsi Jawa Tengah, di Gedung Merah Putih, Kompleks Kantor Gubernur Jateng Jl Pahlawan Semarang, Senin, 30 Maret 2026.

Gus Yasin, panggilan akrabnya menyampaikan bahwa kewaspadaan terhadap campak perlu ditingkatkan, mengingat daya tularnya yang sangat tinggi, bahkan melebihi Covid-19.

“Kalau Covid-19 satu orang menulari lima orang, campak bisa sampai 18 orang. Maka penguatan imunisasi menjadi kunci, tidak hanya untuk campak tetapi juga penyakit menular lainnya seperti TBC,” ujarnya.

Saat ini, KLB campak di Jawa Tengah baru terjadi di tiga kabupaten, yakni Cilacap, Klaten, dan Pati. Selain itu, terdapat dua daerah dengan status suspek, yaitu Brebes dan Kudus. Meski sebagian besar wilayah masih dalam kondisi terkendali, potensi penyebaran tetap menjadi perhatian.

Baca Juga :  Menjadikan MTQ Lebih dari Sekadar Kompetisi

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, tren suspek campak di Jawa Tengah sepanjang 2023 hingga triwulan I 2026 cenderung naik. Puncak suspek campak terjadi pada Januari 2026 dengan jumlah kasus 792 suspek.

Menurut Taj Yasin, peningkatan kasus tersebut merupakan dampak dari terganggunya layanan imunisasi saat pandemi Covid-19. Oleh karena itu, Pemprov Jateng kini mendorong percepatan pemulihan cakupan imunisasi di seluruh wilayah.

“Ini menjadi momentum untuk mengejar ketertinggalan. Kami terus menggerakkan kembali imunisasi dan memperkuat kampanye kepada masyarakat,” tegasnya.

Upaya tersebut juga didukung dengan capaian imunisasi yang cukup baik. Pada 2025, cakupan vaksinasi MR bayi di Jawa Tengah mencapai 106,7 persen atau melampaui target. Meski demikian, masih terdapat kantong-kantong wilayah dengan cakupan rendah yang berpotensi menjadi titik penularan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Maria Endang Sumiwi, mengapresiasi kinerja Jawa Tengah dalam menjaga cakupan imunisasi di tengah populasi besar.

“Jawa Tengah ini berhasil, karena dengan populasi besar, cakupan imunisasi di bawah 95 persen hanya di sedikit kabupaten/kota,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya pemetaan wilayah dengan cakupan imunisasi rendah hingga tingkat desa, agar intervensi dapat lebih terarah dan efektif.

Baca Juga :  Renungan Suci HUT RI, Jateng Teguhkan Janji Melanjutkan Perjuangan Pahlawan

Sementara itu, Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, menilai, upaya Pemprov Jateng sudah berjalan baik. Namun perlu diperkuat melalui edukasi publik yang lebih masif dan kolaboratif.

“Kalau satu orang terkena campak bisa menularkan ke 18 orang. Maka edukasi harus terus dilakukan, melibatkan guru, orang tua, hingga influencer. Ini tidak bisa hanya dilakukan pemerintah sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyoroti masih adanya penolakan imunisasi oleh sebagian orang tua, yang berpotensi memperluas penularan di masyarakat. Oleh karena itu, peran sekolah dan tenaga pendidik dinilai penting dalam memberikan pemahaman kepada orang tua.

“Kita tahu bersama ada juga orang tua yang tidak mau anaknya diimunisasi. Nah, ini menjadi masalah kalau orang tua melarang anaknya untuk diimunisasi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, campak adalah infeksi virus morbillivirus yang sangat menular melalui udara (droplet batuk/bersin) dan permukaan terkontaminasi. Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, dan ruam. Dengan penularan tertinggi 4 hari sebelum-sesudah ruam muncul. Bahayanya meliputi komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak, diare parah, hingga kematian, terutama pada anak yang tidak divaksinasi.*

Berita Terkait

Tak Sekadar Tambah Layanan, Posyandu Jateng Didorong Beri Dampak Nyata
Nawal Yasin Libatkan Kader Posyandu untuk Dampingi Warga Benahi Data Bansos
Dari Menanam Pohon hingga Sumur Resapan, Taj Yasin Ajak Anak Muda Jaga Lingkungan
Cegah Trauma Berkepanjangan, Taj Yasin Pastikan Anak-anak Korban Penggerebekan Didampingi
Magelang Disiapkan Jadi Sentra Susu Baru, Wagub Taj Yasin Pastikan Dukungan Kesehatan Ternak
Tiga Insiden di Porprov Jateng, KONI Evaluasi SOP Keselamatan Atlet
Tak Perlu Jauh ke Rumah Sakit, Warga Lereng Lawu Terbantu Layanan Speling
Ribuan Bendahara KDKMP di Jateng Disiapkan agar Koperasi Dikelola Profesional

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:22 WIB

Tak Sekadar Tambah Layanan, Posyandu Jateng Didorong Beri Dampak Nyata

Senin, 2 November 2026 - 17:27 WIB

Nawal Yasin Libatkan Kader Posyandu untuk Dampingi Warga Benahi Data Bansos

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:41 WIB

Cegah Trauma Berkepanjangan, Taj Yasin Pastikan Anak-anak Korban Penggerebekan Didampingi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Magelang Disiapkan Jadi Sentra Susu Baru, Wagub Taj Yasin Pastikan Dukungan Kesehatan Ternak

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:04 WIB

Tiga Insiden di Porprov Jateng, KONI Evaluasi SOP Keselamatan Atlet

Berita Terbaru